September 23, 2004, 02:34
|
#1
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2004
Location: in front of my computer
Posts: 821
WebPoint: 0 GaulPoint: 139
|
Tradisi Leluhur dan Agama Katolik
Eh temen-temen bagaimana sih tanggapan agama Katolik yang bener terhadap tradisi leluhur
mis: sembahyang pake hio, atau perayaan tahun baru Imlek yang notabene-nya kan dilakukan bukan karena kita pemeluk ajaran agama tersebut melainkan hanya tradisi turun temurun.
(Gw sendiri seorang Katolik lho.............)
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
September 23, 2004, 16:09
|
#2
|
|
Registered User
Join Date: May 2003
Posts: 497
WebPoint: 0 GaulPoint: 523
|
Hm....
g seh it's okay2 aja githo lho itu kan merupakan salah satu dari kebudayaan
kan harusna kebudayaan itu melekat dalam suatu agama
|
|
|
September 23, 2004, 18:37
|
#3
|
|
Mentor
Join Date: Dec 2002
Location: bed of clouds
Posts: 10,247
WebPoint: 0 GaulPoint: 10324
|
Hmmm...bukannya customary dalam perayaan Christmas & Easter juga hasil adaptasi dari pagan traditions? Nurut gue sich justru nilai-nilai Kristen harus diwujudkan dalam tradisi leluhur, bukan sama sekali menolak tradisi.
__________________
"Angelique," Pangeran Christophe berbisik lemah.
"Selamat tinggal, Louis! Cintailah dan berbahagialah bersama Countess Mathilde, hanya sediakan tempat selalu di hatimu bagi kenangan akan Angelique yang pernah kaucintai!" Angelique mengucapkan selamat berpisah kepada sang pangeran.
Last edited by hansel; October 29, 2007 at 19:35.
|
|
|
September 24, 2004, 08:15
|
#4
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2004
Location: in front of my computer
Posts: 821
WebPoint: 0 GaulPoint: 139
|
Tapi masalahnya ini kan berasal dari tradisi Cina yang notabene-nya berasal dari gama Budha........... nah lo gimana...???
|
|
|
September 24, 2004, 08:42
|
#5
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2003
Location: sitting among the angels
Posts: 1,155
WebPoint: 0 GaulPoint: 289
|
natal aja kan dari tradisi romawi yg nota benenya kafir
__________________
Lagi Pusingg Berat!!!!!
|
|
|
September 24, 2004, 10:57
|
#6
|
|
Mentor
Join Date: Dec 2002
Location: bed of clouds
Posts: 10,247
WebPoint: 0 GaulPoint: 10324
|
Quote:
Originally posted by P o l i t i x e
Tapi masalahnya ini kan berasal dari tradisi Cina yang notabene-nya berasal dari gama Budha........... nah lo gimana...???
|
Chinese tradition lain dgn Buddhism lah!
Semisal nih pemujaan terhadap leluhur yg merupakan Chinese tradition, jangan serta merta ditolak, but dikasi nilai Kristen, misalnya digunakan untuk mengenang kebaikan mereka & mendoakan agar jiwa-jiwa mereka beroleh rahmat Tuhan di alam sana.
Chinese New Year, instead digunakan untuk memuja Chinese deities, bisa diganti dgn misa syukur atas rahmat Tuhan sepanjang tahun, tentunya dgn simbol-simbol Chinese.
__________________
"Angelique," Pangeran Christophe berbisik lemah.
"Selamat tinggal, Louis! Cintailah dan berbahagialah bersama Countess Mathilde, hanya sediakan tempat selalu di hatimu bagi kenangan akan Angelique yang pernah kaucintai!" Angelique mengucapkan selamat berpisah kepada sang pangeran.
|
|
|
November 04, 2004, 11:22
|
#7
|
|
Registered User
Join Date: Jun 2004
Posts: 67
WebPoint: 0 GaulPoint: 72
|
Informasi Ajaran Katolik
Saya ada baca artikel ttg katolik di Internet, kalo sembayang make Hio ke orang yg sudah meninggal diperbolehkan tapi kalo mempersembahkan makanan ke org yg sdh tiada tidk diperbolehkan, apa bener?
Dalam katolik bebas memilih pasangan yg bukan katolik tapi anak2 mrk harus diajarin katolik, apa iya?
Sebenarnya apa ini ajaran Yesus ato orang gereja? Thanks
|
|
|
November 05, 2004, 01:16
|
#8
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2004
Posts: 174
WebPoint: 0 GaulPoint: 197
|
Problemnya adalah asimilasi antara kebudayaan setempat dengan ajaran Katholik.
Prinsipnya begini : selama kebudayaan setempat tidak bertentangan dengan ajaran Gereja, maka kebudayaan tersebut tidak ada masalahnya, bahkan tetap dapat digunakan namun dalam kerangka Gereja.
So, kasus hio, tergantung maknanya, kalau tujuannya adalah BERDOA KEPADA TUHAN bagi orang meninggal, maka penggunaan hio adalah tidak salah. Meskipun demikian, Gereja sudah mempunyai cara tersendiri untuk berdoa, yaitu dengan menggunakan tanda salib, dengan menggunakan rosario dst. Jadi sebisa mungkin cara yang telah ditetapkan oleh gereja ini dipakai terlebih dahulu.
Gereja sering mengadakan misa dalam berbagai macam warna budaya (istilahnya aku lupa  ), ada misa dengan gaya jawa, dengan gaya sunda, dengan gaya cina dst. Jadi perpaduan antara adat istiadat dan pelaksanaan tata upacara keagamaan sangat dimungkinkan.
Aku gak tau apa maksud dari pemberian makanan untuk orang yang sudah meninggal, perlu dicermati lagi. Yang jelas prinsipnya sama.
|
|
|
November 05, 2004, 03:03
|
#9
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2004
Posts: 174
WebPoint: 0 GaulPoint: 197
|
Ah, aku ingat... misa inkulturasi. Itu namanya.
btw, tentang menikah beda agama, aku gak tau yach, bagi beberapa keluarga, agama tidak dipandang sebagai suatu jalan hidup, jalan keselamatan. Bukan Prinsip dalam hidup.
Orientasi thd Tuhan menjadi prioritas yang nomor kesekian dalam hidup. Bagi keluarga-keluarga seperti ini, jelas pernikahan beda agama, dalam satu keluarga berbeda agama jelas bukan masalah penting. bahkan bagi mereka hal ini menunjukkan 'demokrasi' yang baik dalam keluarga.
Pertanyaannya bukan : "Apakah kawin campur bisa harmonis" tapi "Apakah benar Kristus adalah pokok keselamatanmu ?".
Bagi saya, Yesus tidak pernah menyatakan bahwa demokrasi bisa membawa keselamatan. Ajaran Yesus sudah jelas, dan kalau kita ingin mengikuti Yesus (bukan kebenaran versi kita masing-masing), maka konsekuensinya adalah mengikuti segala perintahnya. Demokrasi mungkin bisa membawa 'kedamaian' sementara, tapi bukan keselamatan.
Mengenai anak, kita lihat sikap Yesus kepada anak-anak kecil. Ia sangat mencintai anak-anak. (Mat 18:6; Mat 18:10; Mat 19:13-15)
Satu kata-kata Yesus yang sangat mengharukan bagi saya :
Mat 19:14 cf Mar 10:14 : Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."
Disini pulalah posisi Gereja ! Gereja menganjurkan agar anak-anak segera 'dibawa' kepada Yesus sang sumber keselamatan.
Orang-orang tua yang sadar akan kecintaan Tuhan Yesus kepada anak-anak dan pentingnya keselamatan, tidak akan menunggu perintah dari Gereja, mereka akan selalu mendekatkan anak-anak mereka pada Yesus.
Hope that's help...
|
|
|
November 06, 2004, 01:16
|
#10
|
|
Registered User
Join Date: Jun 2004
Posts: 67
WebPoint: 0 GaulPoint: 72
|
Thanks atas informasi, Mungkin anda tau pada hari tertentu , orang chinese kan ada ke kuburan ato bisa dirumah juga, meletakan makanan di depan foto orang yg sudah meninggal ato di depan kuburan buat persembahan kepada mrk yg sudah tiada, apa ini diperbolehkan dalam Katolik? dari artikel internet yg saya baca si tidak boleh, apakah benar? kalo benar, ini sangat bertentangan dengan pandangan saya, apakah kebudayaan/penghormatan ini akan lenyap dan saya tidak bisa memberi mereka yg sudah tiada
Apakah kalo kita berdoa boleh didepan Yesus/Salib? dengan dari temen si katanya Salib hanya sbg simbol doang dan mereka tidak sembayang didepanNya, kata temen2 aku yg kristen siii .. katanya katolik juga demikian ...
Setahu aku dalam ajaran katolik diperbolehkan makan daging kan? Tapi dalam Budha, mereka tidak boleh diperbolehkan makan daging , boleh asal mereka tidak mendengar, melihat dan menyuruh binatang itu di bunuh buat dimakan, tidak diperbolehkan makan daging karena, binatang2 itu juga makluk hidup dan mereka mungkin jelmaan dari manusia yg sudah mempunyai banyak dosa, dengan tidak memakan daging, maka Karma/perbuatan jahat kita di masa lalu dan sekarang bisa berkurang, Setahu saya dalam Katolik juga ada Karma, bagaimana pendangan anda dalam hal ini ...
Apa iya kita harus memberi 10% dari pendapatan kita ke Gereja?
Thanks
Last edited by Boyz; November 07, 2004 at 02:36.
|
|
|
November 07, 2004, 07:30
|
#11
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2004
Posts: 174
WebPoint: 0 GaulPoint: 197
|
Gini, prinsipnya tetap sama dengan yang telah aku tulis dan gereja tidak mengambil sikap resmi yang 'sederhana' dengan menyatakan 'boleh' atau 'tidak boleh'.
Sikapnya adalah : Tergantung, untuk tujuan apa hal-hal tersebut dilakukan. Ada kasus dimana hio digunakan untuk menghormati dewa, maka 'penghormatan dengan hio' dilarang. Ada kasus dimana hio digunakan untuk berdoa kepada Tuhan dengan hio tersebut sebagai media, maka ini diperbolehkan, namun, bila Gereja sudah memiliki cara doa yang resmi, maka sebaiknya cara ini yang dipakai.
Pemberian makanan, misalnya di tahun baru imlek, pembuatan meja persembahan untuk mengundang dewa-dewa dan sebagainya jelas ini tidak boleh.
Jadi coba anda cari tahu dulu, untuk maksud apa persembahan makanan kepada orang mati itu dilakukan. Dari situ akan ditentukan boleh atau tidak boleh.
Prinsip ini aku dapatkan juga dari Rm Pidyarto O.Carm. Dia juga seorang Chineese yang sejak umur 13 tahun sudah masuk biara. Pendapat resmi gereja, setahuku belum ada.
Penggunaan benda-benda untuk simbol ini juga jadi perdebatan antara Kristen dan Katholik. Prinsipnya, benda-benda ini membantu mengarahkan konsentrasi kita. Tapi jelas bahwa doa-doa kita TIDAK diarahkan kepada benda-benda tsb. Ini bukan berhala seperti yang sering disebutkan pada Perjanjian Lama.
Sifat manusia, memerlukan bantuan panca indra untuk bisa berkonsentrasi. Bisakah kita konsentrasi dalam keadaan bising ? bisakah kita konsentrasi sambil melihat TV ? oleh karena itu kita perlu bantuan object-object supaya kita bisa berkonsentrasi. Tujuannya seperti itu.
Katholik, adalah 'agama' yang sangat logis, sangat terstruktur dan konsisten. Semuanya tidak dilarang atau dianjurkan dengan alasan 'pokoknya begitu.....'.
Satu joke, Protestant berpendapat kalau salib tidak boleh ada patung Yesusnya, dan mereka sering 'menekan' orang Katholik yang salibnya ada patung Yesus.
Argumentasi yang baik yang aku gunakan adalah : 'Supaya kita yakin itu Salib Yesus, bukan salib penyamun'.
AKu gak tau ajaran yang pasti, tapi istilah karma tidak ada dalam ajaran gereja. Tuhan pasti menguhukum setiap kesalahan. Ini adalah persamaannya, tapi apakah hukuman ini langsung diberikan SELURUHNYA semasa hidup seseorang (seperti ide karma ?) adalah hak mutlak Allah. Kebanyakan hukuman kita masih harus dijalani di purgatory (api pencucian).
Dunia dan seisinya diciptakan untuk diusahakan oleh manusia, lihat di kitab Kejadian 1:28, 2:15. Ada kelompok Protestan yang masih menafsirkan PL secara harafiah. Tapi kita tidak usah mencela atau menghiyakan. Pandangan dan Ajaran Gereja (magisterium) adalah salah satu pedoman hidup bagi Katholik. Sebaiknya kita tidak terlalu ambil pusing. Bila kita bimbang kita tanyakan kepada Gereja / imam, setelah kita tahu alasannya, kita jalankan dengan penuh keyakinan.
Persepuluhan. salah satu issue dengan Protestant lagi. Di banyak cerita, saya melihat celah ini banyak dipergunakan untuk mengumpulkan dana... tapi biarlah ini mereka lakukan, kita tidak usah mencela.
Ajaran Katholik, tidak ada batasan bagi seseorang untuk memberikan sumbangan sesuai kerelaannya. Jadi TIDAK DIBATASI. Jangan sampai orang merasa bahwa setelah mereka menyerahkan persepuluhan orang ini merasa sudah 'membeli surga' atau kewajibannya dengan hartanya selesai sampai disini.
Gereja tidak pernah memaksa orang untuk menyumbang, karena sumbangan yang didasarkan pada rasa 'kewajiban' atau 'keharusan' tidak akan berguna.
Sumbanglah sesuai dengan kerelaan hati. Ini adalah point utama. Seseorang yang 'diberi' banyak, seharusnya juga 'memberikan lebih banyak'. Bukan hanya dalam hal materi tapi terlebih dalam totalitas hidupnya.
Tidak ada gunanya kalau kita menyumbang tapi bukan dengan kesadaran, tapi dengan perasaan berat hati atau dengan tujuan 'ingin masuk surga'. Prinsip 'pahala' ditolak.
semoga dapat membantu...
|
|
|
November 07, 2004, 11:18
|
#12
|
|
Registered User
Join Date: Jun 2004
Posts: 67
WebPoint: 0 GaulPoint: 72
|
Persembahannya buat orang yg sudah tiada, kalo tidak salah sii, ini merupakan ajaran Kongfucu, tidak memberi makan Dewa kok, cuman ini sudah menjadi adat dan ajaran bahkan pada hari2 tertentu ato sptnya kalo ada keperluan maka makanan akan disajikan di rumah yaiut di depan foto mereka dan sembayang dan mereka di alam sana dapat menikmati makanan tsb, apakah ini dilarang...
Aku sejak TK ampe SMA emang sekolah di Sekolah katolik, kadang2 aku ke gereja, kadang2 aku ke Wihara, alias agama KTP semua, maklum dech ... JAdi kalo sejak kecil aku berdoa pasti di depan PAtung Yesus mulu karena secara naluri emang otomatis begitu dan dari filem2 yg aku lihat, mereka semua kalo berdoa emang begitu ... Baru 2 bulan yg lalu aku terkejut kalo temen aku orang Kristen bilang kalo mereka dan juga katolik, tidak berdoa di depan patung ... Pusing dech gua ... sejak kecil ampe besar begini apa emang aku salah ato kurang ajaran katolik? tapi emang tidak ada larangan kan berdoa depan patung Yesus?
Thanks
|
|
|
November 08, 2004, 02:05
|
#13
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2004
Posts: 174
WebPoint: 0 GaulPoint: 197
|
Oh... gitu yach maksudnya...
gini, ini pendapatku pribadi sih, tapi tetap dengan memakai prinsip yang udah aku ketahui. Kalau maksudnya untuk menghormati yang sudah meninggal, aku rasa masih boleh kok, tiap adat pasti punya cara sendiri-sendiri.
Tapi yang jelas, orang yang sudah meninggal pasti tidak butuh makanan duniawi, maupun uang, mobil, rumah dll. Jadi kalau tujuannya seperti ini, aku rasa tidak akan berguna.
Jadi daripada kita memberikan sesuatu 'demi kelegaan kita pribadi', sebaiknya kita berikan sesuatu yang memang diharapkan oleh jiwa-jiwa ini, yaitu : doa.
Kita bisa pergi ke romo paroki kita, minta untuk dipersembahkan misa. Ini adalah cara yang paling mujarab, supaya jika arwah para leluhur sedang menunggu di api pencucian, segera bisa menerima pengampunan.
btw, misa hari minggu kemarin (7/11) bacaannya bagus lho, bacaan injilnya, Luk 20:37-38 cf Mar 12:27 Mat 22:32, menyatakan bahwa
Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.
"Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."
Ini adalah juga dasar bagi PERSEKUTUAN PARA KUDUS (dalam pengakuan iman : 'Aku Percaya' : Aku percaya akan Allah, Bapa yang maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi..... persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal, amin).
Kalau kita perhatikan juga, setiap kita akan memulai misa, kita mengaku dosa, kita mengucapkan kata-kata,
....Saya berdosa, saya sungguh berdosa, oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, Kepada Para Malaikat dan Orang Kudus, Dan kepada saudara sekalian, supaya MENDOAKAN SAYA PADA ALLAH TUHAN KITA.
Kita semua saling mendoakan. Persekutuan para kudus.
|
|
|
November 08, 2004, 07:51
|
#14
|
|
Registered User
Join Date: Jun 2004
Posts: 67
WebPoint: 0 GaulPoint: 72
|
Cuman kita percaya dengan memberi makan, biarpun mereka di alam sana tidak bisa makan scr langsung tapi dengan menghidup bau2an dari makanan mrk di alam sana bisa makan kok, aku susah menjelasin secara mistik, anda mungkin tau pada bulan 7 dan 8 merupakan perayaan Hantu, dimana etnis tionghoa mempersembahkan makanan, saya rasa semua pasti ada tujuan dan maksudnya ... Emang si mnrt katolik ini tidak berguna
Thanks
|
|
|
November 10, 2004, 01:42
|
#15
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Posts: 1,884
WebPoint: 0 GaulPoint: 744
|
Boyz... emang dalam ajaran Katolik yang gituan itu ngga diijinkan. Karena udah berbeda dengan pemahaman Katolik tentang "cerita kehidupan setelah kematian" yang terdiri dari Surga, Neraka, dan Api penyucian hingga pengadilan terakhir kelak. Jadi ngga bakal ketemu deh kalo mbahas tentang ini dengan orang Katolik yang mengkhususkan diri pada ajaran gereja secara umum (Vatikan).
Kalo ttg makanan... yang penting tuh bukan baunya, tapi visualisasi kita. Jadi secara teori seharusnya makanan tsb divisualisasikan menjadi banyak dan sampai ke alam mereka. Tapi perlu diketahui, arwah sebenernya ngga memerlukan hal2 tsb. Hanya arwah yang "kurang pasrah/buka hati" dan kurang pengetahuan/kesadaran aja yang merasa memerlukan hal tsb. Arwah2 ini karena keterikatan keduniawian yang kuat, merasa apa yang harus mereka lakukan di alam sana adalah sama dengan yang terjadi ketika mereka masih hidup. Hasil dari pemikiran yang kurang sadar ini yang menciptakan alam (tempat) di mana mereka harus makan, punya uang, ada sogokan ke penguasa dll. Jadi memang yang terbaik adalah dengan mendoakan mereka sehingga mereka cepat sadar dan terlepas dari "alam" tersebut. Bukan dengan menambah kekeliruan kesadaran mereka dan "membuat mereka nyaman" di "alam" itu.
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 00:36.
|
|